Jika anda berpikir hidup adalah keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani, hal itu benar. Dan jika anda menambahakan satu hal dari keduanya ialah kesederhanaan anda akan merasakan orang yang paling merdeka yang tak luput dari rasa syukur.
Manusia secara fsikologis adalah lumrah untuk mementingkan kehidupan dunia, dan manusia secara ukhrawi adalah hal yang utama dalam mementingkan kehidupan akhiratnya untuk menyeimbangkan dari keduniawian. Hal yang jarang kita sadari ialah di dalam pisik yang terdapat hati dan jiwa yang sehat. Sebuah pepatah kuno yang melekat dalam bangsa ini, dan sudah tidak asing kita dengar saat masih masa SD dulu. Sekali lagi hal ini adalah pendapat yang perlu kita luruskan.
Berikut ini saya ulas sedikit tentang tokoh terkenal yang mengenai keduniawiannya kurang beruntung (La Tahzan hal.43).
1. ‘atha ibn Rabah, ialah orang yang paling alim pada zamannya seorang mantan budak yang berkulit hitam, berhidung pesek, lumpuh tangannya dan berambut kriting.
2. Ahnaf ibn Qais, orang arab yang di kenal paling sabar dan penyantun ia sangat kurus tubuhnya, bongkok punggungnya, dan melengkung betisnya dan lemah psotur tubuhnya.
3. Al-A’masy, al hadis kenamaan dunia ini adalah sesosok bermata sayu, mantan budak yang fakir, compang camping baju yang dikenakan dan tidak menarik penampilan dan rumahnya.
Bejalar dari kesederhanaan, itu lah ungkapan yang patut kita ucapkan pada beliau tokoh diatas. Memang kedengaran sangat ekstrim menganai keduniaannya. Dimana mereka seperti tokoh-tokoh yang di luar perkiraan kita secara manusiawi, dimana saat ini tokoh-tokoh terkemuka serperti cedikiawan, ilmuan dan ulama dan syehk sekaligus. Sungguh jauh realita kehidupan keduniawiannnya dari apa yang di alami dengan tokoh yang luar bisa diatas. Tinggal kita mau bercermin kepada yang mana, dan menjalani hidup dengan pilihan yang mana.
(abdullah al muzammi)